Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Ekologi Akuatik dan Implementasi Penggunaanya

Pengenalan Alat-Alat Laboratorium dan Implementasi Penggunaanya


Kirana E.R (171810401003) ,Ridhotul I (171810401005) ,Linda D.S (171810401011) ,Millah N.W (171810401012) ,Erinda R (171810401013) ,Ela A (171810401036) ,Verninda E.C (171810401059)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto, Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68121
e-mail : elaapriliyantihasanah@gmail.com

ABSTRAK


Ekologi akuatik merupakan cabang ilmu yang mempelajari interaksi atau hubungan timbal balik antara organisme di perairan dengan lingkunganya. Ekologi perairan mencakup banyak ekosistem seperti ekosistem air tawar, ekosistem laut, ekosistem payau dan ekositem kolam. Terdapat beberapa faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi ekosistem perairan yaitu kecerahan, salinitas, pH, kecepatan arus, suhu dan lain lain. Untuk mengetahui keadaan atau kondisi suatu perairan tertentu diperlukan alat- alat tertentu yang digunakan untuk mengukur faktor biotik dan abiotik. Tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa mengenal dan mampu mengoperasikan alat – alat laboratorium yang diperlukan dalam pengambilan data biotik dan abiotik pada ekosistem perairan. Metode yang digunakan yaitu pengambilan sampel biologi dan menghitung parameter fisik dan kimia. Pengambilan data kualitatif dan kuantitatif pada ekosistem perairan memerlukan peralatan khusus yang berbeda dengan alat pada ekologi teresterial. Pengukuran parameter ekologi akuatik dibagi menjadi alat ukur biologi dan alat ukur fisik atau kimia. Alat ukur parameter fisik meliputi pH meter untuk mengukur pH air, refraktrometer untuk mengukur salinitas air, DO meter untuk mengukur kadar DO, TDS meter untuk mengukur TDS, keping secchi untuk mengukur kecerahan air, botol sampel air untuk mengambil contoh air. Sedangkan alat ukur biologi pada ekosistem perairan meliputi ekman grab berfungsi untuk mengambil sampel bentos pada perairan dalam, jala surber untuk mengambil sampel benthos pada perairan dangkal, kick net untuk mengambil sampel benthos di perairan mengalir, jaring ikan untuk mengambil sampel nekton dan neuston, jaring plankton untuk mengambil sampel berupa plankton.

Kata kunci : ekologi akuatik, faktor fisika, alat laboratorium.


PENDAHULUAN
Ekologi perairan dikelompokkan berdasarkan salinitas anatara lain ekosistem air tawar yang terdiri dari lotik dan lentik, untuk ekosistem air laut terdiri dari intertidal, mangrove serta coral reef, untuk ekosistem air payau terdiri dari estuarine. Ekosistem perairan (tawar, pesisir, dan lautan) didiami oleh berbagai jasad hidup (biotik) dan lingkungan fisik (abiotik) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling terkait. Dua komponen ini saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, sehingga terjadi pertukaran zat (energi) diantara keduanya. Komponen abiotik merupakan faktor pendukung bagi kelangsungan hidup organisme biotik (Dahuri, 2003).
Sungai termasuk kedalam perairan lotik merupakan perairan umum yang airnya mengalir terus menerus menuju arah tertentu dan akan bermuara ke laut. Sungai adalah lingkungan alam yang banyak dihuni oleh organisme. Ciri- ciri umum daerah sungai pada umumnya mempunyai fotograpi bergelombang sampai bergunung-gunung (Odum, 1998).
Danau termasuk kedalam perairan lentik yang merupakan perairan dengan arus tenang dan aliran lambat atau bahkan tidak ada massa air yang terakumulasi dalam periode waktu yang lama. Arus danau yang tenang tidak menjadi pembatas utama bagi biota yang hidup didalamnya (Barus, 2004).
Daerah intrertidal terdapat pada daerah pulau atau daratan yang luas dengan pantai yang landai,sehingga bergantung pada kemiringan dasar perairan dan perbedaan ketinggian air saat pasang surut yang terjadi,semakin landai pantainya maka zona intertidalnya akan semakin sempit. Daerah intertidal secara umum sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona yaitu : zona supratidal, zona intertidal, dan zona subtidal (Nybakken, 1992).

METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Ekologi, Jurusan Biologi, Fakuktas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember. Waktu praktikum dilakukan pada hari Rabu 6 Maret 2019 Pukul 07.00 WIB. Praktikum kali ini membahas tentang Alat-alat Laboratorium dan cara penggunaan dalam ekosistem perairan serta cara kalibrasinya. Alat-alat tersebut meliputi pH Meter, refraktometer, DO meter, TDS meter, secchi disk (Keping Secchi), botol sampel air, ekman grab, jala surber, kick net, jaring ikan, dan plankton net. Metode yang digunakan yaitu pengambilan sampel biologi dan menghitung parameter fisik dan kimia. Pengambilan sampel biologi dilakukan dengan menggunakan peralatan seperti keping secchi, botol sampel air, ekman grab, jala surber, kick net, dan plankton net. Penghitungan parameter fisika dan kimia dilakukan dengan peralatan seperti pH meter, refraktometer, DO meter, dan TDS meter yang semuanya harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan.



HASIL
Alat – alat yang ada di laboratorium ekologi akuatik adalah :
NO
NAMA ALAT
FUNGSI

1.
pH Meter
a.    Mengukur kadar pH perairan
b.    Mengukur Suhu perairan

2.
Refraktometer
Mengukur kadar salinitas atau kadar garam

3.
DO Meter
a.    Mengukur kadar Oksigen yang terlarut dalam air (DO)
b.   Mengukur BOD

4.
TDS
Mengukur kadar TDS di Perairan

5.
Keping Secchi
Mengukur Kecerahan air

6.
Botol Sampel Air
Pengambilan sampel atau contoh air untuk analisis Laboratorium

7.
Ekman Grab
Pengambilan sampel bentos dan substrat di perairan dalam

8.
Jala Surber
Pengambilan sampel bentos di perairan mengalir

9.
Kick Net
Pengambilan sampel bentos di perairan mengalir dan dangkal

10.
Jaring ikan
Pengambilan sampel nekton dan neuston di perairan

11.
Jaring plakton
Pengambiln sampel plankton di perairan









PEMBAHASAN
Pengambilan data kualitatif maupun kuantitatif di ekosistem perairan memerlukan beberapa peralatan khusus. Peralatan yang digunakan pada ekosistem perairan berbeda dengan peralatan yang digunakan di ekosistem terestrial. Pengukuran parameter ekologi akuatik dibagi menjadi dua jenis yaitu alat ukur parameter fisik dan kimia serta alat ukur parameter biologi. Alat ukur parameter fisik dan kimia adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan perhitungan kondisi fisik dan kimia pada objek perairan sedangkan alat ukur parameter biologi digunakan untuk pengambilan unsur biologis yang hidup di perairan tersebut.
Alat ukur paramete fisik dan kimia yang digunakan di praktikum ekologi ada beberapa macam, yaitu :
1.      pH meter
pH meter adalah alat ukur untuk mendeteksi kadar keasamaan pada air. Kadar keasaman menentukan kualitas air pada ekosistem yang diamati. pH meter akan menunjukkan angka yang sesuai dengan derakat keasaman air. pH air dikatakan normal atau netral apabila memiliki nilai 6,5 – 7,5. Apabila nilai pH berada di bawah angka 6,5, maka air tersebut bersifat asam. Nilai pH berada diatas angka 7,5 menunjukan sifat basa. Kadar keasamaan air bernilai 0-14 (Azmi, et al. 2016).
pH terdiri dari sebuah elektroda yang terhubung ke sebuah alat elektronik yang mengukur dan menampilkan nilai pH. Prinsip kerja alat ini terletak pada sensor probe berupa elektroda kaca dengan jalan mengukur jumlah ion H3O+ di dalam larutan. Ujung elektroda kaca disebut bulb. Bulb tersebut yang merupakan inti sensor pH dengan kemampuan bertukan ion positif (H+) dengan larutan yang akan diukur (Azmi, et al, 2016).
2.      Refraktometer
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar salinitas air. Salinitas adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat di dalam perairan. Salinitas memiliki peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan (Riadhi, et al, 2017). Refraktometer bekerja dengan prinsip cahaya yang dibiaskan. Pembiasan cahaya akan terjadi apabila cahaya melawati dua medium dengan kerapatan berbeda. Indeks bias dari cahaya ini yang akan dihitung sebagai ukuran salinitas (Siltri, et al, 2015).
3.      DO meter
Alat DO meter berfungsi untuk menghitung kadar Dissolved Oxygen (DO). DO adalah kadar oksigen yang terlarut di dalam air. Prinsip kerja dari DO meter berdasarkan fenomena polarografi yang terjadi diantara dua elektrode katode dan anode. Tegangan listrik negatif diberikan kepada elektrode katode. Adanya tegangan negatif ini akan mengakibatkan reaksi kimia yang terjadi secara cepat antara air dan oksigen terlarut pada permukaan katode. Tegangan listrik akan terus naik mencapai nilai jenuh yang setara dengan oksigen terlarut. Naiknya nilai arus ini disebabkan pecahnya molekul air H2O menjadi ion H+ dan OH- (Riadhi, et al, 2017).
4.      TDS meter
TDS meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kandungan Total Dissolved Solid (TDS). TDS adalah jumlah material yang terlarut di dalam air. Material ini dapat berupa karbonat, bikarbonat, klorida sulfat, fosfat, nitrat, kalsium, magnesium, natrium, ion – ion organik, senyawa koloid dan lain lain (Cahyani, et al, 2016).
5.      Seschi Disk
Seschi disk merupakan salah satu alat praktikum ekologi aquatik yang digunakan untuk mengukur kecerahan didalam air. Kecerahan yang didapatkan sesuai dengan kedalaman. Nilai kecerahan yang baik untuk kehidupan organisme adalah lebih besar dari 0,45 meter sehingga penetrasi dan absorbsi di perairan tersebut akan berlangsung optimal (Arizuna, et al, 2014).
6.      Botol Sampel Air
Botol sampel air digunakan untuk mengambil contoh air pada ekosistem perairan tertentu. Pengambilan air dilakukan dengan teknik khusus, yaitu botol sampel yang telah berisi contoh air harus bebas oksigen (gelembung). Perlakuan ini dilakukan untuk mencegah adanya perubahan metabolisme yang terjadi di dalam sampel air yang terambil.
Alat ukur parameter biologi yang digunakan di praktikum ekologi ada beberapa macam, yaitu :
1.      Ekman Grab
Ekman grab digunakan untuk mengambil sampel benthos atau subsrat diperairan agak dalam, perairannya berlumpur atau berpasir, dan relatif tidak mengalir seperti waduk dan danau. Alat ini terbuat dari logam (Romdon, 2003).
2.      Jala Surber
Jala surber digunakan untuk  mengambil sampel benthos atau subsrat di perairan dalam. Pengambilan sampel benthos dilakukan dengan meletakkan jala surber menghadap arah arus yang datang. Bagian surber yang berupa bingkai diletakkan di dasar perairan. Substrat dalam bingkai diaduk kurang lebih selama 5 menit sehingga biota yang bersembunyi di sekitarnya (dipermukaan batu) akan masuk kedalam jala surber. Makrozoobenthos yang tersangkut di dalam jala surber diletakkan ke nampan kemudian dipisahkan antara serasah dengan makrozoobenthos (Rachman, et al, 2015).
3.      Kick Net
Kick net digunakan untuk mengambil sampel benthos atau subsrat di perairan yang mengalir dan berbatu. Pengambilannya dengan menggosok subsrat yang ada dibatu dengan kaki, agar dapat benthos atau subsrat yang kita inginkan (Rahayu, et al, 2015).
4.      Jaring Ikan
Jarring ikan digunakan untuk mengambil sampel nekton dan neuston di Perairan. Nekton yaitu organisme yang bergerak aktif (berenang). Neuston yaitu organisme yang ngapung dipermukaan air. Terdapat 2 jenis jaring ikan berdasarkan ukurannya, yaitu jaring ikan yang ukuran lebih besar untuk mengambil sampel neuston, sedangkan jaring ikan yang ukuran lebih kecil untuk mengambil sampel nekton (Muhtadi, et al, 2015).
5.      Jaring Plankton
Jaring plankton digunakan untuk mengambil sampel yang berupa plankton. Jaring plankton dilengkapi dengan tabung pengumpul plankton. Jaring ini lebih rapat, agar mudah menangkap plankton yang ukurannya kecil (Heriyanto, 2012).

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1.Praktikum ekologi aquatik memerlukan alat fisika, kimia dan biologis yang digunakan untuk membantu pengambilan sampel penelitian.
2. Pemahaman pengoperasian alat sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemungkinan kerusakan pada alat.
3. Kawasan aquatik meliputi sungai, danau, kolam, rawa, laut, teluk, estuari.
4. Alat ukur parameter fisika dan kimia meliputi pH meter, refraktometer, DO meter, TDS meter, keping secchi, botol sampel air.
5. Alat ukur parameter biologi meliputi ekman grab, jala surber, kick net, jaring ikan, jaring plankton.



DAFTAR PUSTAKA
Arizuna, Mutiara, Djoko S., Max R. M. 2014. Kandungan Nitrat dan Fosfat dalam Air Pori Sedimen di Sungai dan Muara Sungai Wedung Demuk. Diponegoro Journal Of Maquares. Vol 3 (1) : 7-16.
Azmi, Zulfian, Saniman, dan Ishak. 2016. Istem Penghitung PH Air pada Tambak Ikan Berbasis Mikrokontroller. Jurnal ilmiah Saintikom. Vol 15 (2) : 101-108.
Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. Medan : USU press.
Cahyani, Harum, Harmadi, dan Wildian. 2016. Pengembangan Alat Ukur Total Dissolved Solid (TDS) Berbasis Mikrokontroler Dengan Beberapa Variasi Bentuk Sensor Konduktivitas. Jurnal Fisika Unand. Vol 5 (4) : 371-377.
Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Heriyanto. 2012. Keragaman Plankton dan Kualitas Perairan di Hutan Mangrove. Jurnal Plasma Nutfah. Vol 18(1) : 38-44.
Muhtadi, Yunasfi, Rais, Azmi dan D. Ariska. 2015. Struktur Komunitas Biologi di Danau Pondok Lapan, Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Acta Aquatica.  Vol 2(2) : 83-89.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT Gramedia Utama.
Odum, E. P. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Rachman, H., A. Priyono, dan Y. Mardianto. 2015. Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai di Sub Das Ciliwung Hulu. Jurnal Media Konsevasi. Vol 21 (3) : 261-269.
Rahayu, D. M., G.P. Yoga, H. Efendi, dan Y. Widianto. 2015. Penggunaan Makrozoobenthos Sebagai Indicator Status Perairan Hulu Sungai Cisadane Bogor. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 20(1) : 1-8.
Riadhi, Lutfi, Muhammad R., dan Fajar B. 2017. Pengaturan Oksigen Terlarut Menggunakan Metode Logika Fuzzy Berbasis Mikrokontroler Teensy Board. Jurnal Teknik ITS. Vol 6 (2) :  330-334.
Romdon, Soleh. 2003. Teknik Sampling Makrozoobenthos di Perairan Waduk dan danau. Jurnal Sumber Daya. Vol 1 : 1-3.
Siltri, Dina M., Yohandri, dan Zulhendri K. 2015. Pembuatan Alat Ukur Salinitas dan Kekeruhan Air Mnggunakan Sensor Elektroda dan LDR. Jurnal Sainstek. Vol 7 (2) : 126-139.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu NetBeans (IDE)?

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) - Review Baseline