Garis pantai terpanjang, bagaimana Indonesia mengalami kelangkaangaram ?


    Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki garis pantai terpanjang nomor dua setelah Kanada. Menurut Badan Informasi Geospasial, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer (Samantha, 2013). Wilayah Indonesia terdiri dari 70% lautan yang seharusnya menyebabkan garam di Indonesia berlimpah. Sebanyak 97% lautan di Indonesia mengandung garam dan sisanya mengandung air tawar. Luas wilayah lautan yang mencapai 70% seharusnya Indonesia memiliki stok garam yang berlimpah untuk masyarakat, namun kenyataannya Indonesia masih mengalami kelangkaan garam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada tahun 2017, kebutuhan garam Indonesia mencapai 3,61 juta ton di tahun 2014, sedangkan produksi garam hanya mencapai 2,19 juta ton. Bahkan pada tahun 2016, Indonesia hanya mampu memproduksi garam sebesar 118,1 ribu ton. Hal ini menyebabkan timbulnya kelangkaan garam di Indonesia.

    Pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam dari Australia sebanyak 75.000 ton, agar kelangkaan garam di Indonesia dapat teratasi. Namun, langkah tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan garam Indonesia. Garam sebanyak 75.000 ton hanya mampu memenuhi kebutuhan garam konsumsi. Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, mengatakan bahwa dari 99.093 kilometer garis pantai Indonesia hanya 26.024 hektar yang cocok dijadikan lokasi tambak garam sehingga produksi garam Indonesia tidak cukup berlimpah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Kanada (Wirawan,2017).

    Faktor lain yang menjadi penyebab kelangkaan garam Indonesia adalah proses produksi yang masih tradisional. Mengatakan bahwa sulit untuk meningkatkan kapasitas garam Indonesia jika proses yang dilakukan masih sederhana dan tradisional hanya mengandalkan matahari dan alat sederhana seperti pengeruk kayu dan kincir angin. Menurut Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), faktor yang menyebabkan terjadinya kelangkaan garam adalah anomali cuaca. Ketika musim kemarau memiliki curah hujan yang tetap tinggi sehingga menyebabkan garam tidak dapat dijemur sehingga tidak ada garam yang dihasilkan (Aron, 2017).

    Produksi garam di Indonesia saat ini masih dinilai bermasalah. Kurangnya teknologi tentang produksi garam di Indonesia adalah salah satu yang menghalangi pencapaian swasembada garam nasional. Faktor lain yang mempengaruhi produksi garam di Indonesia adalah musim yang datangnya tidak menentu. Seperti yang baru saja terjadi, hujan tetap datang pada musim kemarau atau dikenal dengan kemarau basah. Hal tersebut menjadi permasalahan bagi petani garam karena dapat mengurangi kuantitas produksi garam. Padahal garam merupakan kebutuhan sehari-hari baik di bidang industri maupun untuk dikonsumsi. Kelangkaan garam akan membuat harga garam melambung tinggi yang dapat merugikan masyarakat dan industri yang enggan unuk membeli garam.

Penyebab kelangkaan garam di Indonesia menurut BPPP Tegal yaitu :

Teknis Produksi
    Peralatan dan cara produksi masih sederhana, saluran air bahan baku tidak tertata sehingga pasokan air sebagai bahan baku tidak kontinyu. Kemudian, kemampuan petani garam di dalam mengolah lahan garam untuk peningkatan produksi terpusat di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sedangkan SDM di Indonesia timur kualitasnya masih harus ditingkatkan.

Iklim
    Musim kemarau di Indonesia barat relatif pendek yaitu berkisar 4 sampai 5 bulan pertahun dengan kelembaban yang tinggi, sehingga produktivitas garam setiap tahun rendah, sedangkan untuk Indonesia timur musim kemarau hingga 7 sampai 8 bulan.

Produktivitas Lahan
    Produktivitas lahan garam rakyat rata – rata masih rendah yaitu sekitar 60 sampai 80 ton/hektar/musim.

Kualitas Produk
    Kualitas produk tidak seragam dengan kandungan zat pencemar yang tinggi. Sehingga untuk peningkatan kualitas atau pemurnian kristal garam melalui pencucian menyebabkan naiknya biaya, oleh karena itu garam rakyat cenderung dijual dengan kualitas seadanya. Sebagai perbandingan garam konsumsi produksi PT. Garam mengandung NaCl 95 % – 97 %, sedangkan garam rakyat mengandung NaCl lebih kecil dari 95%.

Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana garam rakyat belum tertata dan kurang memadai. Tata letak pergaraman rakyat umumnya tidak teratur dan terpencar-pencar, sarana jalan yang menghubungkan petak/lahan dengan jalan raya sebagai sarana transportasi hampir dikatakan tidak ada atau tidak memadai. Hal ini menyebabkan biaya angkut ke tepi jalan raya (transportasi ke atas truk pengangkut) menjadi tinggi sehingga pendapatan petani garam pada umumnya menjadi lebih kecil karena dipotong biaya transport yang cukup besar.

Sumber :
Aron, Hans. 2017. Garam di RI Langka, Kok Bisa?. https://finance.detik.com/industri/3580210/garam-di-ri-langka-kok-bisa (Diakses pada tanggal 12 November 2017).
Mustofa, Edi Tujono. 2015. Analisis Optimalisasi Terhadap Aktivitas Petani Garam Melalui Pendekatan Hulu Hilir Di Penambangan Probolinggo. Lumajang: Jurnal Widya Gama. Vol. 5, No. 1.
Samantha, Gloria.2013. Data dasar rupabumi wilayah Indonesia yang berlaku ternyata tak sesuai hasil survei di lapangan. http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/terbaru-panjang-garis-pantai-indonesia-capai-99000-kilometer (Diakses pada tanggal 12 November 2017).
Wirawan, Jerome. 2017. Indonesia negara maritim tapi mengapa harus mengimpor garam?. http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40792179 (Diakses pada tanggal 12 November 2017).

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Ekologi Akuatik dan Implementasi Penggunaanya

Apa itu NetBeans (IDE)?

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) - Review Baseline