Pesantren Dan Indonesia

Dokumentasi Pribadi: Pondok Modern Darussalam Gontor

Kadangpintar.com - Pesantren adalah lembaga pendidikan khas Nusantara yang sulit kita jumpai di negara-negara lain bahkan timur tengah sekalipun. Karena berdirinya pesantren tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Bahkan dapat dikatakan pesantren-lah yang memiliki andil paling besar dalam mencerdaskan anak bangsa sebagai institusi pendidikan ber-sistem pertama di Indonesia. Seperti Pesantren Sidogiri Pasuruan (1718), Pesantren Jamsaren, Jawa Tengah (1750), Ponpes Miftahul Huda, Malang (1768) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sejarah berdirinya pesantren dimulai dengan adanya sosok kyai yang dianggap alim dan memiliki kepribadian yang luhur, sehingga datanglah beberapa orang untuk belajar kepada kyai tersebut, dan mereka ditempatkan di rumah kyai untuk benar-benar mendapatkan pendidikan secara intens. Namun, semakin lama semakin banyak santri yang datang kepada kyai tersebut sehingga rumah sang kyai tak cukup lagi untuk menampung santri yang jumlahnya semakin banyak. Akhirnya, para santri berinisiatif untuk membuat bangunan di sekitar rumah kyai sebagai tempat tinggal mereka agar tidak membebani sang kyai. Bangunan inilah yang kelak disebut sebagai pondokan atau Pondok. Di dalam Pondok inilah para santri saling berinteraksi dan bercengkerama yang kemudian menjadi embrio lahirnya rasa ukhuwah islamiyyah (persaudaraan sebagai sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebagai sesama bangsa Indonesia), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sebagai sesama umat manusia).

Dalam perjalanan bangsa Indonesia, pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan yang mampu melahirkan alumni-alumni yang berilmu dan berakhlaq, akan tetapi pesantren juga berhasil mencetak kader-kader umat yang siap untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. Hal  ini senada dengan semboyan para santri yang mengatakan “Hubbul Wathan Minal Iman”  (Mencintai tanah air adalah bagian daripada Iman). Sehingga tak heran jika pada masa penjajahan lahir gerakan-gerakan nasional yang diprakarsai oleh santri, seperti Sarekat Islam (Bidang Ekonomi), NU dan Muhammadiyah (Bidang Kemasyarakatan), Hizbullah (Bidang Pertahanan),dsb. Para santri juga memberikan sumbangsihnya dalam perumusan dasar negara  pada saat dibentuknya Panitia Sembilan. Terdapat di dalamnya KH. Wahid Hasyim (Tokoh NU), KH. Abdul Kahar Muzakir (Tokoh Muhammadiyah), dan juga H. Agus Salim (Tokoh SI). Bahkan, pertempuran 10 November di Surabaya yang kemudian hari diperingati sebagai Hari Pahlawan tidak lepas dari peran santri melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.

Maka bohong orang-orang yang mengaku dirinya sebagai santri akan tetapi suka mengusik ketentraman bangsa yang sudah terjalin, anti terhadap Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, bahkan mengutuk sistem dan kedaulatan NKRI. Santri sejati adalah santri yang memiliki wawasan keagamaan dan wawasan kebangsaan yang mapan sekaligus.
Wassalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Ekologi Akuatik dan Implementasi Penggunaanya

Apa itu NetBeans (IDE)?

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) - Review Baseline