Akulturasi Agama dan Budaya


Penulis: Fatias Risantara Akbar

Agama dan budaya adalah dua hal yang tak mungkin terpisahkan dalam membentuk ideologi dan karakter seseorang. Agama adalah jalan untuk mengenal tuhannya dengan Iman dan amal sholih sedangkan budaya adalah kebiasaan yang tertanam kuat dalam suatu komunitas masyarakat. Melalui perpaduan kedua unsur inilah akan tercipta kehidupan agamis dan humanis sekaligus yang dapat memperkaya khazanah Islam sebagai agama pembawa rahmat dengan spirit kearifan lokal.
Dalam perjalanan penyebaran dakwah islamiyyah, tentunya Islam telah mengalami berbagai gesekan dengan kultur-kultur di luar kebiasaan orang arab, mulai dari segi bangunan, busana, adat istiadat, bahkan bahasa.

Kubah dan menara yang seakan-akan menjadi bangunan wajib di setiap masjid sebenarnya berasal dari kebudayaan nashrani dan majusi. Cara berbusana-pun demikian, Ada yang mengenakan jubah dan sorban, jas dan celana, bahkan sarung dan blangkon. Perbedaan adat istiadat-pun turut mewarnai keanekaragamaan Islam. Sebagai contoh, tradisi el-fanous di Mesir yang diadakan setiap tahun di bulan Ramadhan, zardah atau lebih Kita kenal dengan sebutan kenduri yang diadakan umat Muslim di Maroko sebagai ungkapan rasa syukur. Di Indonesia, banyak sekali kita jumpai adat istiadat yang dibangun di atas pondasi keagamaan seperti sekatenan, selametan, kupatan, halal bi halal, dsb. Akan tetapi, tardisi-tradisi tersebut dapat menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat yang kurang memahami esensi dari tardisi itu sendiri. Padahal, perbedaan itu merupakan sunnatullah yang harus disadari oleh setiap insan dengan penuh rasa toleransi dan kearifan. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْا
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Dari pembahasan diatas, Kita dapat menyimpulkan bahwa akulturasi agama dan budaya merupakan cara yang sangat efektif dalam membangun spiritual sebuah bangsa. Mengapa? Karena setiap orang akan memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan apa yang telah diwariskan leluhurnya. Para pemuka agama, hendaknya jeli dalam memahami medan dakwah serta kondisi psikologis masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai niat baik untuk menyampaikan risalah islamiyyah tercemar oleh amarah dan sifat angkuh gara-gara masyarakat enggan menerima dakwahnya. Kita contoh bagaimana para walisongo berhasil menanamkan aqidah yang haq di tanah jawa padahal pada saat itu tanah jawa dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar yang beragama Hindu dan Buddha. Kita doakan semoga Islam bisa terus berjaya di bumi nusantara ini dengan penuh rasa damai dan aman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Ekologi Akuatik dan Implementasi Penggunaanya

Apa itu NetBeans (IDE)?

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) - Review Baseline