Firqah Besar Dalam Aqidah Islam

Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang

Dalam aqidah islam ada beberapa firqah besar yang harusnya kita ketahui, sebelum itu pasti ada beberapa pertanyaan yang akan muncul ketika kita berbicara tentang firqah. Diantarnya “Bagaimana dan mengapa suatu aliran (firqah) itu bisa ada?”, “Bukannya sumber kita sama yaitu Al-Qur’an dan Hadist?”

Inilah jawaban yang bisa kita utarakan jika menemukan pertanyaan seperti itu. Terbentuknya berbagai firqah dalam islam bisa ada karena perbedaan pendapat, fanatisme yang berlebihan, dan juga pemahaman yang kurang terhadap isi Al-Qur’an maupun Hadist. Sangat penting untuk kita ketahui bahwa memahami Islam dan menjalankan ibadah tidak akan cukup jika kita hanya berpedoman pada Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memberikan tuntunan ibadah secara umum. Untuk memahami Al-Qur’an kita harus merujuk lagi pada Hadist yang memberikan tuntunan ibadah secara lebih spesifik. Tapi tidak hanya berhenti pada hadist, umat islam juga harus mengikuti ijma’ dan qiyas yang dilakukan oleh para ulama.

Pada ijma’ (pendapat ulama), qiyas (menyamakan) tidak sembarang orang yang bisa memberikan pendapatnya. Ijma’ itu terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, karena pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, semua perkara diputuskan langsung oleh Nabi Muhammad SAW melalui perantara wahyu.

Beberapa aliran atau firqah besar dalam islam yang perlu kita ketahui:

A.    Syi'ah
Kelompok yang satu ini adalah kelompok yang memiliki perilaku fanatisme terhadap Ali bin Abi Thalib dan juga Ahlulbait atau keluarga Rasulullah SAW. Ada beberapa keyakinan yang dipegang oleh kelompok ini. Untuk urusan kepemimpinan, tidak ada yang boleh memimpin kecuali dari keturunan Ali bin Abi Thalib, Fanatisme kepada Ahlulbait, dan rasa benci terhadap khalifah selain Ali. Rasa benci ini timbul karena ketertarikan yang berlebihan (fanatisme), dan kelompok ini juga beranggapan bahwa 3 Khalifah sebelum Ali telah mengambil alih kekhalifahan Ali RA.

Syi’ah garis keras bahkan beranggapan bahwa Malaikat Jibril melakukan kesalahan karena menurut mereka, yang seharusnya menerima wahyu adalah Ali RA bukan Nabi Muhammad SAW. Lagi-lagi karena kefanatikan yang membuat seseorang bahkan sebuah kelompok tidak bisa berpikir secara jernih. Syi’ah yang memiliki kadar sedang (tidak separah garis keras) mengutuk para sahabat, dan Syi’ah yang memiliki kefanatikan rendah adalah mereka yang fanatik kepada Ali RA tapi tidak sampai mengutuk para sahabat seperti pada kelompok Syi’ah garis keras.

B.    Khawarij
Kelompok yang satu ini bisa kita sebut kelompok yang sangat ekstrem, karena kelompok ini mengkafirkan orang selain dari kelompoknya. Karena orang kafir boleh dibunuh dan mereka mempunyai pemikiran bahwa seseorang yang diluar golongan/kelompoknya adalah kafir, berarti bagi mereka halal darah seorang muslim (yang bukan dari golongannya).

Kelompok ini membenci Ali RA, dan juga musuhnya yaitu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (Pendiri Daulat Umayyah).  Ali RA merupakan Khulafaur Rasyidin yang ke 4 setelah Utsman ibn Affan dan meninggal karena serangan yang dilakukan oleh seorang dari kelompok Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam.

Saat ini masih ada pemikiran-pemikiran yang sebenarnya relevan dengan pemikiran dari kelompok Khawarij, hanya saja mereka menggunakan nama atau istilah yang berberda dengan kelompok ini.

C.    Mu'tazilah
Golongan ini sebenarnya merupakan golongan yang beranggotakan orang-orang elit dan pintar dalam masyarakat. Hanya saja mereka menaruh logika dan rasionalitas diatas Al-Qur’an dan Hadist. Golongan ini berpedoman pada salah satu hadist yang berbunyi:
اَدِّيْنُ عقلٌ، لاَدِيْنَ لِمَنْ لاعَقْل لَهُ
Agama itu adalah akal, maka tiada agama tanpa akal.

Dari sini mereka beranggapan bahwa semuanya harus berdasarkan logika. Bagi mereka jika ada isi dari Al-Qur’an dan Hadist tidak sesuai dengan rasionalitas, maka suatu Hadist tidak boleh diambil, dan mereka lebih memilih menggunakan logika. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa dalam memahami hadist tidak hanya sebatas memahami sebuah teks.

Sama dengan firqah lainnya, kelompok yang memiliki pemikiran releven dengan Mu’tazilah juga masih ada, yaitu kelompok yang memiliki ideologi liberal (menjunjung tinggi kebebasan). Keduanya sama-sama menaruh logika diatas segalanya.

D.    Jabbariyah
Yaitu kelompok yang memiliki pemikiran bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini sudah diatur oleh Allah, sehingga tidak ada usaha yang serius dan cenderung pasrah (pasrah karena putus asa) dalam mengejar suatu tujuan. Ciri-ciri dari kelompok ini adalah sikap mereka yang pasif dan selalu pesimis. “Untuk apa aku berusaha keras untuk mendapatkan uang dan mencari kekayaan, jika Allah memang menghendaki aku kaya, maka aku akan kaya” itu merupakan salah satu contoh pernyataan yang menggambarkan pemikiran dari kelompok Jabbariyah.

E.     Ahlussunnah Wal Jama'ah (Sunni)
Setelah terjadi “kegaduhan” dengan munculnya beberapa firqahyang mementingkan urusannya sendiri yaitu kepentingan individu dan golongannya, maka muncullah kelompok dari mayoritas para ulama yang ingin mengembalikan Islam kepada ajaran (maksudnya disini tidak condong kepada individu maupun golongan seperti pada firqah-firqah sebelumnya). Kelompok ini disebut Ahlussunnah Wal Jama’ah atau ASWAJA.

Ahlussunnah berarti kelompok yang ingin mementingkan ajaran, dan Jama’ah berarti persatuan para Shahabat RA. Kelompok ini beranggapan tidak ada diantara sahabat Nabi yang memiliki sikap maupun sifat buruk. Jadi semua sahabat adalah baik dan anggapan ini berlandaskan keterangan dalam Hadist Rasulullah SAW:
أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ، إِنِ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ
Para Shabatku itu ibarat bintang-bintang di langit, apabila kamu semua mengikuti mereka, maka kamu semua akan memperoleh Hidayah atau petunjuk dari Allah SWT

Poinnya adalah, kelompok ASWAJA merupakan kelompok yang ingin mengembalikan dan meluruskan islam, seperti spirit dari kelompok ini yaitu “Kembali kepada ajaran”.

والله اعلم بالصواب

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Ekologi Akuatik dan Implementasi Penggunaanya

Apa itu NetBeans (IDE)?

Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) - Review Baseline