SEJARAH SINGKAT BANGSA ARAB
Posisi
Bangsa Arab
Secara etimologi, Arab artinya
adalah padang pasir, tanah gundul, dan daratan yang tandus. Jazirah arab
dibatasi oleh Laut Merah dan Gunung Sinai disebelah barat, di sebelah timur
dibatasi oleh Teluk Arab dan Negara Irak bagian selatan, di sebelah utara
dibatasi oleh Syam dan sebagian kecil negara Irak, di sebelah selatan dibatasi
oleh Laut Arab yang bersambung dengan Laut India.
Jazirah Arab dikelilingi oleh gurun
yang sangat luas. Keadaan demikian membuat Arab terlihat bagaikan benteng yang
kokoh dan tidak memperkenankan bangsa lain untuk menjajah dan menguasainya.
Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa Bangsa Arab sejak dahulu dapat hidup
secara merdeka dan bebas dari belenggu asing. Tetapi tidak dapat dipungkiri
bahwasannya Bangsa Arab hidup diantara dua kekuatan besar saat itu yakni
Imperium Byzantium Romawi dan Imperium Persia yang dapat menyerang mereka
kapanpun. Akan tetapi Jazirah Arab diuntungkan secara letak geografis seperti
yang disebut diatas.
Sedangkan mengenai hubungannya
dengan dunia luar, Jazirah Arab merupakan tempat yang sangat strategis. Hal ini
disebabkan karena Jazirah Arab merupakan pintu masuk tiga benua besar yaitu
Asia, Afrika, dan Eropa. Karena letak geografisnya seperti itu, sebelah utara
dan sebelah selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuhnya berbagai bangsa
sehingga banyak terjadi pertukaran perniagaan, peradaban, agama dan seni.
Kaum-kaum
Bangsa Arab
Setelah ditelusuri
secara mendetail, para sejarawan membagi Bangsa Arab menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Arab Ba’idah, yaitu Bangsa Arab
terdahulu yang mana sejarahnya tidak diketahui secara rinci, seperti kaum Ad, Tsamud, Thasm, Jadis,Imlaq, dll.
2. Arab Aribah, yaitu Bangsa Arab
yang berasal dari keturunan Ya’rub Yasyjub bin Qahthan atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3. Arab Musta’rabah, yaitu Bangsa Arab
yang berasal dari keturunan Ismail a.s. atau disebut pula Arab Adnaniyah.
Tempat kelahiran Arab Aribah atau Kaum Qahthan adalah di Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa
kabilah dan suku, yang dikenal ada dua kabilah;
a. Kabilah Himyar, yang
terdiri dari suku Zaid Al-Jumhur, Qudha’ah, dan Sakasik.
b. Kabilah Kahlan, yang
terdiri dari suku Hamdan, Amnar, Thayyi’, Madhizj, Kindah, Lakham, Ludzaz, Uzd,
Aus, Khazraj, dan keturunan Jafnah raja Syam.
Mengenai Arab Musta’rabah tidak dapat dipisahkan dari sejarah Ibrahim a.s.
yang berasal dari negeri Irak tepatnya di sebelah barat sungai Eufrat yang
berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak referensi-referensi yang akan kita dapat
dari ulasan para sejarawan mengenai perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim
a.s., kondisi religius dan sosial masyarakatnya.
Sebagaimana yang kita tahu, bahwa
Nabi Ibrahim a.s. sering berhijrah bersama istrinya (Sarah) dari satu tempat ke
tempat yang lain, seperti ke Haran atau Hurran, Pakistan, dan akhirnya menetap
di Mesir dan Palestina. Perkawinan Nabi Ibrahim dan Sarah tak kunjung
membuahkan keturunan, sehingga Sarah pun mengawinkan Nabi Ibrahim dengan Hajar[1].
Beberapa tahun setelah perkawinan
Ibrahim dan Hajar, keduanyapun dikarunai seorang anak yang bernama Ismail.
Kelahiran Ismail membuat hubungan Ibrahim dan Hajar semakin mesra hingga
menyebabkan Sarah tersulut api cemburu yang akhirnya memaksa Ibrahim untuk
memisahkan dirinya dengan Hajar. Akhirnya Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke
sebuah lembah tandus di daerah Hijaz yang tak ditemui mata air dan juga
tumbuh-tumbuhan. Rasa gundah meggelayuti pikiran Ibrahim saat itu, lalu dia
menitipkan sebuah bejana yang berisi air dan juga beberapa buah korma sebagai
bekal untuk mereka berdua, lalu meninggalkannya. Selang berjalannya waktu bekal
itupun habis dan memaksa Hajar untuk mencari mata air guna menyambung hidup
keduanya. Akhirnya ia pun berlari-lari kecil diantara bukit Shafa dan Marwah. Pencarian
itupun tak kunjung membuahkan hasil, hingga pada akhirnya Allah SWT
memperlihatkan mukjizat Ismail a.s. yang kelak akan menjadi seorang rasul. Saat
itu Ismail menendang-nendangkan kakinya lalu tiba-tiba memancar air dari tanah
yang ia tendang. Air itulah yang kemudian dinamakan sumber mata air zam-zam
yang bisa kita nikmati hingga hari ini. [2]
Setelah beberapa lama, datanglah
kabilah Jurhum yang berasal dari negeri Yaman yang kemudian hari tinggallah
mereka di Mekkah atas seizin Hajar. Ibrahim beberapa kali datang mengunjungi
istri dan anaknya dan diriwayatkan Ibrahim empat kali berkunjung ke Kota Makkah
Al-Mukorromah hingga suatu malam ia bermimpi menyembelih anaknya Ismail. Lalu
ia pun terbangun dari tidurnya dan hendak melaksanakan mimpinya itu yang ia
yakini adalah sebuah perintah dari Allah SWT. Menurut para ahli sejarah,
peristiwa ini terjadi sekitar tiga belas tahun sebelum kelahiran Ishaq a.s.
karena kabar gembira mengenai kelahiran Ishaq tercatat ketika Ismail hendak
menginjak usia remaja.
Ismail kecil belajar Bahasa Arab
dari kabiah Jurhum, hingga ia dikawinkan dengan salah seorang gadis dari
kabilah tersebut yang mana ketika itu Hajar sudah meninggal dunia. Suatu saat
Ibrahim datang dan tidak bertemu dengan Ismail namun bertemu dengan istrinya
kemudian ia menanyakan perihal kehidupannya dengan Ismail, lalu ia mengatakan
bahwa kehidupannya melarat dan dirundung kesusahan. Maka Ibrahim menitip pesan
kepada istrinya untuk disampaikan kepada Ismail agar ia mengubah palang
pintunya, kemudian Ibrahim pamit pulang. Sepulang Ismail ke rumahnya, Istrinya
menyampaikan pesan Ibrahim kepadanya. Setelah mendengar pesan itu, ia pun
menceraikan istrinya karena ia mengerti bahwa itu adalah isyarat perceraian
dari ayahnya. Lalu ia menikah lagi dengan putri Mudhad bin Amru salah seorang
pemuka Kaum Jurhum.[3]
Setelah perkawinan Ismail yang
kedua, Ibrahim datang kembali ke kediaman Ismail. Lagi-lagi ia hanya berjumpa
dengan istrinya, dan menanyakan pertanyaan yang sama. Istri Ismail menjawab
dengan pujian kepada Allah SWT. Mendengar jawaban itu, Ibrahim pamit pulang dan
menitipkan pesan kepada Ismail agar memperkokoh palang pintunya.
Untuk yang ketiga kalinya, Ibrahim
kembali pergi dari Palestina ke Mekkah guna menemui anak kinasihnya Ismail.
Pada pertemuan yang ketiga inilah Ibrahim benar-benar berjumpa dengan anaknya
Ismail yang saat itu sedang mengasah anak panah di bawah pohon dekat mata air
zam-zam. Ibrahim dan Ismail pun saling berpelukan sebagai luapan kerinduan yang
telah dipendam sekian lama. Sebagai bentuk kegembiraan mereka, akhirnya mereka
bersepakat untuk meninggikan sendi-sendi ka’bah dan memperbolehkan umat manusia
untuk berhaji ke baitullah sebagaimana perintah Allah SWT kepadanya.
Dari perkawinan Ismail dengan putri
Mudhadh bin Amru ia dikaruniai dua belas anak yang semuanya laki-laki. Dari
mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah yang semuanya
menetap di Mekkah. Mata pencaharian mereka adalah berdagang yang terbentang
dari Yaman hingga Syam dan Mesir. Seiring berjalannya waktu, keturunan Ismail
tak dapat lagi dideteksi kecuali melalui dua anaknya yang bernama Nabat dan
Qaidir.
Keturunan Nabat telah berhasil
menciptakan peradaban yang maju di daerah Hijaz Utara dengan membangun pemerintahan
yang kuat dan mampu menguasai daerah-daerah sekitarnya dan menjadikan
Al-Bathra’ sebagai ibukotanya. Melalui penelitian yang mendaklam, Sayyid
Sulaiman An-Nadwi mengatakan bahwa raja-raja keturunan Ghassan, serta suku Aus
dan Khazraj bukanlah keturunan Qahthan akan tetapi berasal dari keturunan
Nabat, anak Ismail a.s.[4]
Sedangkan anak keturunan Qaidir
menetap di kota Mekkah, beranak pinak hingga menurunkan Adnan, dan anaknya
Ma’ad. Adnan merupakan kakek kedua puluh dua daripada Nabi Muhammad SAW.
Menurut riwayat, jika Nabi SAW menyebutkan nasabnya maka beliau menyebutkan
hingga Adnan dan bersabda “Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta”, lalu
ia berhenti dan tidak melanjutkannya kembali. Namun segolongan ulama’
memperbolehkan untuk menarik nasab
Rasulullah SAW lebih jauh lagi dengan beberapa pertimbangan. Setelah dilakukan
penyelidikan yang rumit dan mendalam, Adnan merupakan keturunan keempat puluh
dari Ismail a.s. putra Ibrahim a.s.[5]
Ma’ad memperoleh keturunan dari
anaknya yang bernama Nizar, dan menurut sebagian besar ahli sejarah meyakini
bahwa Nizar merupakan anak satu-satunya. Dari Nizar kemudian lahir empat orang
anak yang kemudian menjadi empat kabilah dari bangsa Arab, yaitu Iyad, Ammar,
Rabi’ah, dan Mudhar. Namun dua kabilah yang terakhirlah yang banyak melahirkan
suku dan marga. Dan kabilah Mudhar-lah yang dipilih oleh Allah sebagai cikal
bakal lahirnya manusia paling agung yaitu Sayyyidina Muhammad SAW.
Kabilah Mudhar bekembang menjadi dua
suku besar yang berasal dari Qais Ailan bin Mudhar dan Ilyas bin Mudhar. Dari
Qais bin Ailan lahirlah Bani Sulaim, Bani Hawazin, dan Bani Ghathafan. Dari
Ilyas bin Mudhar lahirlah Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Asad bin
Khuzaimah, dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dari Kinanah lahirlah Quraisy
putra Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah.
Quraisy terbagi lagi menjadi
beberapa suku, yaitu Jumuh, Sahm, Adi, Makhzum, Taim, Zuhrah, dan keturunan
Qushay bin Kilab, yakni Abdu Dar bin Qushay, Asad bin Abdul Uzza bin Qushay,
dan Abdi Manaf bin Qushay.
Abdi Manaf mempunyai empat anak,
yaitu Abdi Syams, Naufal, Al-Muthallib, dan Hasyim. Dan dari bani Hasyim lahir
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim. Rasulullah SAW bersabda:
إن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل و اصطفى من
ولد إسماعيل بني كنانة و اصطفى من بني كنانة قريشا و اصطفى من قريش بني هاشم و
صطفاني من بني هاشم (رواه مسلم و الترمذي)
“Sesungguhnya Allah telah
memilih Ismail dari anak Ibrahim, memilih Kinanah dari anak Ismail, memilih
Quraisy dari Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari
Bani Hasyim”.
(H.R Muslim dan
Tirmidzi)
[1] Menurut kisah yang banyak dikenal, Hajar merupakan seorang budak
wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, Al-Allamah Al-Qadhi Muhammad Sulaiman
Al-Manshurfuri telah melakukan penyelidikan yang seksama bahwa Hajar adalah
seorang wanita merdeka, dan dia adalah putri Fir’aun. Lihat, Rahmatan Lil Alamin, 2/36-37.
[2] Lihat Shahih Bukhori, Kitabul
Anbiya’, 1/474-475.
[3] Qalbu Jaziratil Arab, hal
230.
[4] Lihat buku Tarikhu Ardhil Qur’an, 2/78-86.
[5] Rahmatan Lil Alamin, 2/7,8,14-17
Komentar
Posting Komentar