Apa yang Terjadi saat Kelahiran Rasulullah SAW?
APA YANG TERJADI SAAT KELAHIRAN RASULULLAH SAW?
Rasulullah SAW
dilahirkan pada 12 rabiul awal, walaupun ada sebagian ahli tarikh yang
berpendapat bahwa ia dilahirkan pada tanggal 9 rabiul awal. Keadaan Mekkah saat
itu sangatlah tidak kondusif seusai penyerangan tantara Abrahah dari negeri
Yaman untuk menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi Allah menunjukkan kuasanya dengan
mendatangkan burung-burung ababil dengan jumlah yang sangat banyak, dan setiap
burung membawa tiga kerikil dari neraka. Setiap kerikil itu mengenai
tantara-tentara Abrahah dan seketika itupun mereka hangus lalu kemudian mati.
Kelahiran Muhammad SAW bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M berdasarkan
penelitian ulama’ terkenal bernama Syeikh Muhammad Sulaiman Al-Manshufuri dan
ahli astronomi bernama Mahmud Basya.[1]
Banyak sekali
keajaiban-keajaiban yang muncul ketika kelahiran Rasulullah SAW sebagai
penghormatan alam akan lahirnya manusia paling agung tersebut. Ibnu Sa’d
meriwayatkan, bahwa ibunda Rasulullah SAW berkata: “Setelah bayiku lahir, aku
melihat kemaluanku bersinar menerangi istana-istan di Syam”. Ahmad juga
meriwayatkan dari Arbadh bin Sariyah, yang isinya serupa dengan perkataan
tersebut.
Diriwayatkan
pula bahwa ada beberapa fenomena yang menjadi bukti kerasulan bayi Aminah itu,
seperti hal-nya patung-patung berhala terbalik, Api-api di menara Persia yang
menjadi sesembahan orang Majusi yang konon tak pernah padam lebih dari 1000
tahun tiba-tiba padam, serta runtuhnya gereja-gereja di sekitar Buhairah. Yang
demikian ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi sekalipun tidak diakui oleh Muhammad
Al-Ghozali.[2]
Setelah Aminah
melahirkan bayinya itu, ia mengutus beberapa orang untuk pergi ke rumah Abdul
Muthallib untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Mendengar kabar tersebut
Abdul Mutthalib langsung mendatangi kediaman Aminah lalu membawa bayi itu ke
dalam Ka’bah seraya berdoa dan bersyukur. Ia pula yang memberinya nama
Muhammad. Nama itu masih terdengar asing di telinga bangsa arab kala itu. Dan pada
hari ketujuh beliau dikhitan sebagaimana kebiasaan bangsa Arab[3].
[1] Mudharat
Tarikhul Umam Al-Islamiyyah, Al-Khadri, 1/62; Rahmatan lil Alamin, 1/38-39.
[2] Fiqhus
Sirah, Muhammad Al-Ghazali, hal. 46.
[3] Sirah
An-Nabawiyyah , Ibnu HIsyam, 1/159; Mudharatu Tarikhil Umam
Al-Islamiyyah, Al-Khadri, 1/62. Ada pula
pendapat yang mengatakan bahwa Nabi SAW sudah terlahir dalam keadaan
dikhitan. Lihat Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar, hal 4. Ibnu Qayyim berkata,
“Tidak ada hadist yang kuat mengenai hal ini”. Lihat Zadul Ma’ad.

Komentar
Posting Komentar