Benarkah ungkapan "Tuntutlah ilmu waluapun ke negeri China" termasuk hadits Rasulullah SAW?
BENARKAH UNGKAPAN “TUNTUTLAH ILMU
WALAUPUN KE NEGERI CHINA” TERMASUK HADITS RASULULLAH SAW?
"اطْلُبِ
الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ"
“Tuntutlah ilmu
walaupun ke negeri China”
Ungkapan ini
mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Para da’i sering mengaitkan ungkapan
ini dengan hadits Nabi SAW yang berkenaan dengan kewajiban menuntut ilmu. Akan
tetapi benarkah perkaan tersebut bersumber dari Rasulullah SAW?
Bangsa Arab dan
Tiongkok memang sudah menjalin hubungan yang sangat lama, bahkan sebelum Islam
datang. Guci, kain, dan ukiran-ukiran indah lainnya adalah produk utama yang
mereka jual di Pasar Persia dan Arab. Saking eratnya hubungan keduanya,
An-Nawiri menuliskan dalam kitabnya yang berjudul Nihayatul Arab
bahwasannya orang-orang Arab menyebut segala sesuatu yang berukiran indah
dengan sebutan “Shinniyah” yang berarti “ciri khas China”. Melalui bukti
ini maka dibutuhkan penelitian secara komprehensif mengenai kebenaran hadits
diatas. Mengapa? Karena secara historis, China bukanlah bangsa yang asing di
kalangan bangsa Arab. Andaikan tidak ada bukti sejarah mengenai hubungan
keduanya, maka dapat dipastikan dengan mudah bahwa hadits tersebut palsu.
Suatu Hadits
dapat dianggap shohih (benar), apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a.Semua periwayat didalam hadits tersebut adil (baik agamanya).
b. Semua periwayatnya dhobit
a.Semua periwayat didalam hadits tersebut adil (baik agamanya).
b. Semua periwayatnya dhobit
(kuat hafalannya).
c. Sanadnya bersambung.
d. Tidak menyelisihi hadits lain yang periwayatannya lebih kuat
c. Sanadnya bersambung.
d. Tidak menyelisihi hadits lain yang periwayatannya lebih kuat
e. Tidak ada illah (cacat)
Harus kita
pahami bahwasannya hadits adalah sumber hukum kedua setelah Al-Qur’anul Karim,
sehingga kita harus berhati-hati dalam menyeleksi segala hal yang dianggap
bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan status hadits diatas?
Yuk kita bahas satu persatu.
Hadits diatas dikategorikan oleh para ulama’ sebagai hadits masyhur non-terminologis (ghoir istilahiy). Hal ini dibuktikan dengan pencantuman hadits tersebut pada kitab-kitab hadits yang khusus memuat hadits-hadits masyhur, seperti:
- Al-Maqashid
Al-Hasanah, karya As-Sakhowi (w. 902 H)
-Ad-Durar
Al-Muntashirah fi Al-Ahadits Al-Musytahirah, karya As-Suyuthi (w. 911 H)
-Tamyiz
At-Thayyib min Al-khaba’its, karya Ibn Ad-Daiba’ (w. 944 H)
- Kasyf
Al-Khafa’ wa Muzil Al-Ilbas, karya Al-Ajluni (w.1162 H)
Rawi dan Sanad
Hadits
Berdasarkan
kitab Al-La’ali Al-Masnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah yang juga ditulis oleh
Al-Imam As-Suyuthi yang merupakan ringkasan dari kitab yang ditulis oleh Ibn
Al-Jauzy, beliau menyimpulkan ada tiga sanad yang berbeda mengenai hadits
diatas. Masing-masing adalah:
1. Ahmad
bin Abdullah - Maslamah bin Al-Qasim –
Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Asqalani – Ubaidillah bin Muhammad Al-Firyabi –
Sufyan bin Uyainah – Az-Zuhri – Anas bin Malik – (Rasulullah SAW).
Rawi: Ibnu Abdil Bar dan Al Baihaqi dalam kitab Syu’abal Iman
2. Ibnu
Karram – Ahmad bin Abdullah Al-Juwaibari – Al-Fadhl bin Musa – Muhammad bin Amr
– Abu Salamah – Abu Hurairah – (Rasulullah SAW).
Rawi: Ibn Karram dalam kitab Al-Mizan
3. Dalam
kitab Lisanul Mizan karya Ibn Hajar Al-Asqolani, ia meriwayatkan sendiri hadits
tersebut dari Ibrahim An-Nakho’i dan mengungkapkan bahwa Ibrahim An-Nakho’i
mengatakan: “Saya mendengar hadits itu dari Anas bin Malik”
Kualitas Sanad
a. Dalam sanad peratama terdapat nama Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim
Al-Asqalani. Menurut Imam Adz-Dzahabi ia adalah seorang pembohong (kazzab).
b. Dalam sanad kedua terdapat Ahmad bin Abdullah Al-Juwaibari yang tak
lain adalah seorang yang suka memalsukan hadits Rasulullah SAW.
c. Dalam sanad ketiga Ibnu Hajar Al-Asqolani memberi komentar bahwa
sebenarnya Ibrahim An-Nakho’i tidak pernah mendengar hadits tersebut dari Nabi
SAW.
Kedudukan dan
Kualitas Hadits
Tiga sanad yang
disebutkan oleh As-Suyuthi semakin menambah lemahnya hadits tersebut, karena
beliau justru memaparkan kelemehan-kelemahan hadits itu dengan adanya rawi yang
fasiq. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani.
Biasanya,
apabila ada hadits dhoif (lemah) memiliki rawi yang banyak maka status hadits tersebut naik menjadi hasan
li ghoirihi. Tetapi tidak demikian apabila dhoif-nya hadits tersebut
karena cacatnya rawi seperti kazzab (suka berbohong)..
Oleh karena itu,
kita bisa mengambil kesimpulan bahwa secara umum hadits diatas adalah dhoif.
Bahkan, Ibnu Hibban menetapkan hadits ini Bathil La Ashla Lahu (Batil
dan tidak ada landasannya).
Sikap terhadap
Hadits “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”.
Berdasarkan
penjelasan diatas maka sikap hukum yang kita ambil adalah tidak boleh
menjadikannya sebagai asas keyakinan maupun Fadhoil Al-A’mal (keutamaan
dalam berbuat kebaikan). Padahal menurut ulama’ boleh menjadikan hadits dhoif
sebagai fadhoil al-a’mal. Mengapa? Karena lemahnya hadits diatas bukan secara
teks melainkan ada rawi yang bermasalah.
Namun, hikmah
di balik ungkapan tersebut adalah motivasi kepada kita agar senantiasa
bersemangat didalam menuntut ilmu. Karena luasnya ilmu tak dapat diukur dengan
tempat dan waktu. Sehingga kata “China” dalam ungkapan tersebut hanyalah
sebagai sample atau permisalan, bukan anjuran. Kita boleh menuntut ilmu
kemanapun asal mendatangkan manfaat dan kebaikan.
Wallahu a’lam
bisshowab
Fatias
Risantara Akbar
Sumber gambar: https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2019/11/tiga-ilmu-yang-harus-dipelajari.jpg
Sumber gambar: https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2019/11/tiga-ilmu-yang-harus-dipelajari.jpg

Komentar
Posting Komentar